Minggu, 05 Agustus 2012

DEBAT MTA VS SUNNI

oleh Mbah Jenggot II pada 6 Februari 2012 pukul 17:24 ·

DEBAT MTA VS SUNNI MTA : Ngaji kok dari kitab kuning yang itu buatannya manusia! Ngaji itu langsung dari Qur’an dan Hadits yang sudah pasti benarnya! Seperti kami warga MTA

SUNNI: Pertama, ucapan anda sudah tidak sejalan dengan apa yang dilakukan oleh ulama-ulama Islam baik dari kalangan salaf, maupun khalaf. Ulama-ulama dahulu, selain belajar dari al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka juga belajar dari kitab-kitab ulama’. Dari ini saja, anda warga MTA, sudah tidak sesuai dengan prilaku salaf dan khalaf dan cenderung menyalahkan dan mensesatkan ratusan ribu ulama’-ulama’ Islam. Anda telah membodohkan Imam Syafi’i, Imam abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal dan lain-lain. Berapa ratus ribu kitab-kitab ulama’ yang sudah engkau cela?! Dengan demikian, anda telah dibutakan oleh fanatik sehingga anda tidak lagi dapat membaca kebenaran. Na’udzu billah!
Kedua, kita belajar tata cara shalat dan wudhu apakah dari langsung dari Qur’an dan Hadits atau dari guru? Apakah dalam al-Qur’an maupun hadits ada gambar orang sholat dan wudhu sehingga kita bisa menirunya? Bukankah kita bisa tahu tata cara sholat dan wudhu dari guru yang telah belajar dari kitab-kitab ulama’. Dan ulama menulis tata cara shalat misalnya berdasar yang mereka fahami dari al-Qur’an maupun Hadits. Bukankah anda juga belajar dari Ustadz anda, Ahmad Sukino?! Kenapa anda mengingkari kebodohan anda dirinya?! Inilah jadinya, orang yang telah dibutakan oleh fanatik!

Coba sebutkan kepada kami, rukun, syarat dan batalnya sholat dengan merujuk pada Qur’an dan hadits yang anda fahami! Tapi jangan sekali-kali membuka kitab ulama’. Jika anda bisa, maka anda memang cukup layak kami perhitungkan untuk diajak berdiskusi ilmiyyah! Jika tidak bisa, maka pantaskah anda membanggakan diri dengan kelompok anda?!
Anda belajar ilmu tajwid dari mana? Apakah langsung dari al-Qur’an dan bertemu Rasulallah secara langsung? Bukankah anda dari guru. Padahal guru adalah manusia dan manusia juga tempatnya salah. Jika anda tidak mengakui itu, maka buat apa kami melayani hamba nafsu dan hamba duniawi!

Anda hanya mau belajar dari al-Qur’an dan Hadits saja, itu kelihatannya baik, akan tetapi dibailik statemen yang kelihatannya baik tersebut tersimpan kebusukan yang nyata.
Bukankah anda belajar dari Sukino di Solo, kenapa anda tidak belajar langsung dari Al-Qur’an dan Hadits? Bukankah Sukino juga manusia yang juga bisa salah? Anda mengkrikit kami, berarti sama dengan anda mengkritik diri anda sendiri.
Kami orang NU belajar dari kitab ulama-ulama Islam. Dan mereka memahaminya dari Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Bukankah Rasulallah memerintahkan kita mengikuti ulama’?!

Bedanya apa, jika anda mengikuti pemahaman hukum Sukino (yang pengecut jika diajak berdialog) dari al-Qur’an dan hadits dan kami mengikuti ulama-ulama’ Islam seperti Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Imam Izzuddin bin Abdissalam, Imam Suyuthi, Imam Haramain dan lain-lain yang juga memahami hukum dari al-Qur’an dan hadits. Bedanya Sukino sok pintar dan kami mengikuti Imam Syafi’i dan lain-lain yang jauh lebih alim dan lebih sholih yang keilmuannya disepakati ulama-ulama Islam dunia. Apakah anda akan mengatakan jika Sukino lebih pintar daripada Imam Syafi’i? Jika itu maksud anda, maka kami bersaksi bahwa ANDA ORANG MTA SUDAH GILA! Karena menganggap Imam Syafi’i ilmunya dibawah Sukino.

MTA: Membaca Yasin sebagaiman budaya NU atau Yasinan haditsnya adalah dhoif semua, sehingga mengamalkannya adalah bid’ah dan bid’ah adalah sesat!

SUNNI: Yang sesat justru anda! Yang bodoh justru anda! Yang ahli bid’ah adalah anda! Bukankah surat Yasin adalah surat al-Qur’an? Bukankah kita dianjurkan membaca al-Qur’an?!

Kami mengakui jika membaca Yasin untuk orang mati haditsnya adalah dhoif, akan tetapi hadits dhoif bisa diamalkan dalam hal-hal keutamaan amal. Dan itu disepakati oleh ulama’, minimal menurut mayoritas ulama’. Jika anda tidak mengetahui hukum ini, maka betapa dholimnya anda sehingga, belum tahu hukum sudah berani mensesatkan masyarakat NU! Yang bodoh anda atau kami! Silahkan membaca kitab ulama dahulu sebelum kebodohan anda menjadi bahan tertawaan kami!

MTA: Membaca maulid saat bulan maulid adalah bid’ah karena tidak ada anjuran dari Rasulallah.

NU: Imam Nawawi, Imam Ibnu Taimiyyah, Waliyullah Ma’ruf al-Karkhi, Imam ahlussunnah Hasan al-Bashri, Imam Junaid dan imam-imam lain melakukan maulidan, maka pertanyaannya, apakah anda merasa lebih alim dari pada mereka? Merasa Sukino lebih pantas dijadikan panutan daripada mereka meskipun kelakuan Sukino yang seperti pengecut? Jawaban anda menentukan, manakah yang sesat antara anda atau kami.

MTA: Tahlilan adalah bid’ah karena tidak diajarkan oleh Rasulallah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.

SUNNI: Kami akan bahas terlebih dahulu tentang Tahlilan. Kami mengakui jika tahlilan tidak pernah diajarkan oleh Rasulallah, akan tetapi apakah anda tahu isi kandungan daripada ratib Tahlil? Di dalam tahlil terdapat ayat Qur’an, Shalawat, doa, dan dzikir, maka tunjukkan mana yang sesat? Jika anda berkata yang sesat adalah menyusunnya. Maka kami katakan, hal baik disusun dengan hal baik apakah menjadi jelek? Manakah dalil yang menunjukkannya? Ojo ngawur to wong MTA!

Semua bid’ah adalah sesat menurut anda! Lalu kenapa Abu Bakar mengumpulkan al-Qur’an padahal itu tidak pernah dilakukan Rasulallah dan juga tidak pernah diperintahkan? Umar bin Khaththab membuat tarawih 20 rakaat, padahal Rasulallah hanya 8 rakaat? Sayyidina Utsman menambahi adzan jum’at menjadi 2 kali. Apakah anda akan mengatakan bahwa ketiga shahabat tersebut adalah ahli bid’ah? Jika itu jawaban anda, maka anda adalah layak kami sebut pengikut syetan karena menjelek-jelekkan shahabat Rasulallah yang agung.
Al-Qur’an zaman Nabi tidak ada tanda harakat dan titiknya, karena harakat dan titik ada di zaman Umar bin Khaththab, maka kami bertanya, al-Qur’an yang dipakai Sukino dan antek-anteknya ada harakat dan titiknya atau tidak? Jika ada maka Sukino dan antek-anteknya juga ahli bid’ah.

MTA : 7 hari kematian dan 40 hari adalah haram, karena tidak diajarkan Rasulallah dan juga budaya Hindu.

SUNNI: Budaya Hindu? Memangnya selametan adat Hindu ada tahlilannya? Ada doa-doa? Ada bacaan Qur’annya? Jika tidak ada berarti tidak sama! Tasyabbuh (menyerupai) orang kafir yang haram adalah ketika sama seperti yang mereka lakukan, jika tidak sama ya tidak haram. Coba anda renungkan, anda memakai sepeda motor Yamaha, padahal Yamaha buatan dan digunakan dahulunya oleh orang kafir, apakah anda dikatakan menyamai mereka? Tidak bukan!
Tahlilan adalah membaca al-Qur’an, doa, shalawat dan lain-lain yang dihaturkan kepada mayit, dan semua ulama’ mengakui itu, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal. Pertanyaannya, apakah anda akan mengharamkan dan membodohkan ulama’? jika itu jawaban anda, maka kami pastikan kami tidak akan lagi berbicara kembali dengan ORANG GILA.

Setiap yang tidak diajarkan Rasulallah bukan pasti haram, jika haram, maka bukankah Rasulallah tidak pernah membuat buku agama? Kenapa Sukino membuat buku? Rasulallah tidak pernah mengajarkan menjelek-jelekkan ulama’, tapi kenapa anda selalu menjelek-jelekkan ulama’, seperti Imam Syafi’i yang tarawihnya 20, pakai qunut shubuh dan lain-lain.

MTA : Bid’ah semuanya adalah sesat tanpa terkecuali, karena haditsnya berbunyi “SETIAP BID’AH ADALAH SESAT”.

SUNNI : Kami bertanya, Jika semua adalah sesat sebagaimana kata anda, maka apa jawab kalian tentang sesuatu yang tidak pernah diakukan Rasulallah tentang penulisan al-Qur’an yang dilakukan oleh Sayyidinia Abu Bakar, pemberian harakat dan titik pada lafazh Qur’an yang dilakukan pada zaman Umar bin Khaththab, adzan dua kali yang dilakukan Sayyidina Utsman bin Affan? Jika tidak anda katakan semuanya adalah bid’ah, maka anda katakan sebagai apa? Apa kata anda ketika Umar bin Khaththab memberikan komentar jama’ah tarawih 20, “Bagus-bagusnya bid’ah adalah ini”. Kenapa Umar menyebut bid’ah dan beliau justru malakukannya? Apakah anda tidak tahu tentang fakta ini wahai orang-orang MTA?

Asy-Syafi’i mengatakan: “Setiap perkara yang baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ dan atsar (ucapan para shahabat) adalah bid’ah yang jelek, dan jika tidak bertentangan dengan dasar-dasar tersebut, maka dikatakan bid’ah mahmudah (baik).[1]
Harmalah bin Yahya mendengar Imam asy-Syafi’i berkata: “Bid’ah ada dua, yaitu bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang jelek, apa yang sesuai dengan as-Sunah adalah terpuji dan yang menyelisih as-Sunah adalah tidak terpuji.”[2] Perkataan asy-Syafi'i tersebut juga di kutib dan di amini oleh al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-Ulum wa al-Hikam (II/128)

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari mengatakan: “Yang jelas, sesungguhnya bid’ah jika masuk dalam kategori dasar hukum yang dinilai baik syara’ maka itu adalah bid’ah hasanah. Dan jika masuk dalam kategori dasar hukum yang dinilai jelek syara’ maka itu adalah bid’ah sayyi’ah. Selain itu maka masuk kategori bagian bid’ah mubah. Dan bid’ah dibagi menjadi lima.”[3]. Imam asy-Syaukani dalam Nailul Authar (III/25) juga mengutip pendapat Ibnu Hajar di atas dan tidak membantahnya.

Ibnu Abdil Barr dalam al-Istidzkar syarah al-Muwaththa' Imam Malik (V/152-153) mengatakan, "Bid'ah dalam lisan Arab adalah membuat sesuatu yang belum pernah ada. Maka jika hal tersebut berkaitan dengan agama serta menyelisih Sunnah yang di amalkan, maka itu adalah bid'ah yang tidak baik, wajib di hinakan, di larang, di perintah untuk di jauhi dan pelakunya harus hindari jika itu adalah pilihan madzhabnya. Dan jika bid'ah tersebut tidak menyelisih kaidah syari'at dan Sunnah, maka itu adalah bid'ah yang nikmat sebagaimana sabda Umar"[4].
Begitu komentar ulama-ulama Islam, sekarang apakah anda akan mengatakan jika Umar bin Khaththab dan Imam Syafi’i sebagai orang yang bodoh dan sesat?! Jawaban anda menentukan, siapa yang sesat, anda atau kami.

MTA : Dzikir keras setelah adzan adalah bid’ah yang sesat.

SUNNI : Berdzikir maupun berdo'a secara berjama'ah setelah shalat adalah berdasar keumuman hadits shahih riwayat at-Tirmidzi dalam Sunan-nya dan Ahmad dalam Musnad-nya:

مَا مِنْ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا حَفَّتْ بِهِمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

 "Tiada kaum yang berdzikir Allah kecuali mereka di kelilingi para Malaikat dan di selubungi rahmat. Ketentraman pun akan datang turun kepada mereka dan Allah menyebut mereka di depan makhluk yang berada di sampingnya"

Hadits ini sudah cukup sebagai dalil mengenai di sunahkannya ber-halaqah atau berjama'ah dalam berdzikir kepada Allah baik dengan membaca al-Qur'an bersama-sama sebagaimana yang di lakukan pada zaman salaf atau membaca wirid, dzikir dan lain-lain. Selain dari pada itu, tidak ada dalil secara khusus yang melarang dzikir atau berdoa secara berjama'ah setelah shalat. Dengan demikian, jika berdzikir dan berdoa secara bersama-sama tersebut di nilai haram, maka sangat jelas bertentangan dengan keumuman hadits di atas.

Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawi Haditsiyyah-nya mengatakan bahwa pembacaan wirid para shufiyyah dengan secara berjama'ah yang kerap kali di lakukan setelah shalat Shubuh atau yang lain adalah berdasar hadits yang shahih (termasuk hadits at-Tirmidzi di atas), baik di lakukan dengan suara keras atau suara lirih[5].

Al-Muhaddits Abdurrahman al-Mubarakfuri berkata, "Ketahuilah! Bahwa ulama ahli hadits saat ini berselisih pendapat mengenai seorang imam shalat yang setelah selesai dari shalat maktubahnya, apakah boleh bagi dia berdo'a dengan mengangkat kedua tangannya dan di amini oleh ma'mum-ma'mum di belakangnya? Sebagian ulama menjawab boleh dan sebagian mengatakan tidak boleh dan menyangka bahwa hal itu adalah termasuk dari bid'ah. Mereka berkata bahwa hal tersebut tidak pernah ada ketetapan dari Rasulallah Saw dengan sanad shahih, bahkan hal itu adalah termasuk hal baru dan setiap hal baru adalah bid'ah"[6] kemudian beliau menampilkan dalil-dalil ulama yang membolehkannya.
Sedangkan dalil sunat mengangkat tangan dalam berdoa baik doa setelah shalat maupun yang lain adalah berdasar hadits tentang kesunatan mengangkat tangan dalam berdoa yang sudah bisa di katakan haditsnya mutawatir. Adapun ingkar al-Hafizh Ibnu Qayyim tentang mengangkat tangan dalam berdoa setelah shalat adalah kesalah faham dari beliau. Demikian yang di katakan oleh Sayyid Muhammad Shiddiq Hasan Khan al-Qinauji sebagaimana yang dikutib oleh Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki[7].
Lalu apa jawaban anda setelah membaca keterangan diatas?!

MTA : Setelah adzan tidak usah berpujian, karena itu adalah bid’ah yang tidak pernah diajarkan Rasulallah.

SUNNI: Setelah selesai muadzin mengumandangkan adzan tanda masuknya waktu shalat, biasanya sebagian budaya masyarakat kita ada yang bershalawat dengan bersama-sama dan ada pula yang berdoa juga dengan bersama-sama (pujian: Jawa).
Untuk praktik berdoa bersama-sama dengan suara keras setelah adzan, memang tidak ada dalil secara khusus yang mengenai hal tersebut. Namun, disyariatkan berdoa antara adzan dan iqamah tersebut terdapat dalil shahih dari riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Sunni dan lain-lain.

لاَ يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ
“Doa tidak ditolak antara adzan dan iqamah.”.

Dan berdoa adalah anjuran syariat serta dapat di baca setiap saat tanpa mengenal batas waktu dan tempat.
Sedangkan shalawatan bersama-sama baik dengan suara pelan atau suara keras juga tidak ada dalil yang mengatakan sunah, yang ada hanya hadits shahih riwayat Muslim bahwa setelah adzan disunahkan bershalawat dan baru kemudian membaca doa setelah mendengar adzan.[8] dan shalawatan tersebut dilakukan sekali sebelum berdoa adzan.
Lalu bagaimana hukum bershalawat bersama-sama di antara adzan dan iqamah tersebut? Jawabaannya adalah: jika tidak meyakini bahwa antara adzan dan iqamah terdapat kesunahan khusus membaca shalawat, maka shalawatan tersebut hukumnya sunah, karena shalawat bisa dibaca di mana pun waktu dan tempat. Namun, jika meyakini bahwa shalawat termasut sunah dibaca antara adzan dan iqamah, maka termasuk bid’ah tapi tidak sampai haram. Dan, hanya makruh karena terjadi takhshish (pengkhususan) tanpa ada mukhashshish (dalil yang mengkhususkan).

Menurut Syaikh Yusuf Khaththar Muhammad dalam kitab Mausu‘ah Yushufiyyah mengatakan bahwa shalawatan setelah adzan tersebut muncul sekitar tahun 781 Hijriyyah (dan tidak ada ulama mu’tabar yang ingkar) sebagaimana disampaikan oleh Ibnu ‘Abidin dalam Risalah-nya. Dan, hukum shalawatan tersebut adalah bid’ah hasanah seperti dikatakan oleh as-Suyuthi, as-Sakhawi, Ibnu Hajar al-Haitami dan Zakariyya al-Anshari meskipun dilakukan dengan suara keras.[9]
Pertanyaan semacam ini pernah diajukan kepada Syaikh ‘Abdullah ‘Alawi al-Haddad, yaitu tentang bershalawat dengan keras setelah adzan dikumandangkan oleh muaddzin yang di ingkari oleh beberapa kalangan. Beliau menjawab bahwasannya kebiasaan bershalawat yang dilakukan oleh para muadzin setelah mengumandangkan adzan shalat adalah termasuk bid’ah hasanah yang diridhai dan tidak baik di ingkari setelah kita tahu bahwa shalawat dan salam kepada Rasulallah tidak dibatasi dengan waktu, keadaan, zaman maupun tempat. Adapun dalam keadaan dan waktu tertentu disunahkan membaca shalawat adalah untuk menambah pahala dengan tetap merujuk adanya perintah dan keutamaan membaca shalawat di mana pun waktu dan tempat, baik dengan keras atau lirih atau baik dengan sendirian atau bersama-sama. Juga tidak diperkenankan mengingkari adat shalawatan setelah adzan tersebut kecuali ada dalil yang melarangnya, dan ternyata memang tidak terdapat dalil yang melarangnya, sehingga pengingkaran terhadap adat tersebut dianggap gugur dan tidak perlu diperhatikan sama sekali.

Adapun muadzin mengeraskan bacaan shalawat tersebut adalah bertujuan sebagai pengingat bagi orang-orang yang sedang lupa berdzikir atau bershalawat kepada Rasulallah.

Masih menurut Sayyid Abdullah Alawi al-Haddad, bahwa sebenarnya adat tersebut adalah syiar masyarakat Makkah dan Madinah (zaman itu) serta sudah menjadi adat mereka membaca shalawatan setelah adzan shalat kecuali maghrib karena waktunya yang sedikit dan shalat shubuh yang kebiasaannya shalawat di baca sebelum menjalankan shalat shubuh. Adat tersebut juga yang dilakukan di Hadhramaut Yaman. Namun, jika shalawatan tersebut mengganggu orang yang melakukan shalat dan lain-lain, maka sebaiknya shalawatan—dengan suara keras—dilarang agar tidak mengganggu.[10]
Kesimpulannya, shalawatan tersebut tidak perlu dilarang. Akan tetapi, sebaiknya masyarakat diberi nashehat supaya tidak mempunyai anggapan bahwa shalawatan tersebut sunah dibaca setelah adzan. Methode dakwah seperti ini lebih di anggap bermartabat, yakni dengan dakwah bil hasanah, bukan dengan cepat-cepat mencela karena tidak ada dalil secara khusus. Kita dapat mencontoh dakwah para wali saat babat tanah Jawa, di mana budaya Jawa saat itu masih sangat kental dan mendarah daging. Mereka menyampaikan Islam dengan hikmah, lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama dan tidak cepat-cepat menilai kufur dan sesat orang lain.

Pertanyaan Untuk MTA

Soal 1

Dalam buku MTA, Sukino menulis zakat boleh diberikan kepada orang kafir apabila diharapkan kaumnya masuk Islam (Muallafatu qulubuhum)? Bukankan itu bertentangan dengan hadits Rasulallah yang shahih riwayat Bukhari:

أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
Artinya:
Allah mewajibkan umat Islam menzakatkan hartanya, diambil dari umat Islam yang kaya dan diberikan kepada umat Islam yang miskin.

Berarti jelas, Sukino bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad.

Soal 2

Kami mengikuti Imam Syafi’i yang sepakati alim dan pintarnya oleh ulama dan anda mengikuti Sukino yang tidak jantan ketika diajak berdialog datau berdebat. Kami tanya, pintar mana Sukino imam anda atau Imam Syafi’i imam kami? Jawaban anda menentukan siapa yang bodoh dan sesat!

Soal 3

Sukino sering mengkritik budaya NU, tetapi ketika diajak berdialog dia selalu mengatakan agama tidak perlu didebatkan. Jika tidak perlu didebatkan, maka kenapa anda selalu mendebat dan menghina kami lewat pidato busuk anda? Anda banci yang takut kalah atau jangan-jangan pengecut tapi sok jago? Kami selalu siap bedebat dangan Sukino dimanapun dan kapanpun. Dan sudah berkali-kali Sukino yang pengecut diajak bersialog dan selalu tidak berani dengan alasan yang dibuat-buat.

Soal 4
Anda mengaharamkan adzan dan iqamah ditelinga bayi saat dilahirkan. Padahal pendapat anda bertentangan dengan mayoritas ulama Islam. Pertanyaannya, yang benar adalah Sukino dan MTA-nya atau ulama’-ulama’ yang mengatakan sunah? Jawaban anda menantukan mana yang sesat, kami atau MTA! Jika anda mengatakan haditsnya dhoif, maka kami semakin yakin jika anda kelasnya adalah cah angon yang sok pintar!

Soal 5
Jika kami katakan, bahwa orang MTA tidak ada yang pintar agama Islam, maka apakah anda keberatan? Jika keberatan maka kami ingin bukti dengan berdialog. Jika tidak berani, maka pantaskah anda menghina kami sementara prilaku anda adalah pengecut!

Soal 6
Anda kami pastikan tidak mengakui madzhab, baik Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hanbali. Akan tetapi kami bertanya, yang katanya anda hanya mau mengambil hukum langsung dari al-Qur’an dan hadits saja, Imam al-Bukhari bermadzhab atau tidak? Jika anda bilang tidak, maka tunjukkan kitab sejarah yang menunjukannya. Karena kami dapat pastikan beliau adalah pengikut madzhab Syafi’i. Imam Nasai, Imam Baihaqi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani penulis kitab hadits Bulughul Maram dan lain-lain semuanya adalah pengikut madzhab Syafi’i. Maka, jawablah kenapa anda tidak mau seperti mereka? Apakah anda merasa lebih baik dari pada Imam Bukhari?

Soal 7
Anda bilang anda belajar langsung dari Qur’an dan hadits. Ingat dalam al-Qur’an terdapat ilmu tata cara mengambil hukum dari al-Qur’an maupun hadits, maka terangkan kepada kami, apa itu nasikh mansukh, hadits ahad, hadits mutawatir, dan istilah-istilah lain. Jika tidak bisa berarti anda termasukd dari orang yang di ancam oleh Rasulallah masuk neraka!
مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Artinya:
"Barang siapa yang berbicara tentang (tafsir/ta'wil) al-Qur'an dengan tanpa ilmu, maka silahkan mengambil tempatnya di neraka" (HR: Tirmidzi, Ahmad bin Hanbal dan Baihaqi)

Soal 8
Anda mengklaim diri menafsirkan al-Qur’an. Pertanyaan kami, untuk berkemampuan menafsirkan al-Qur’an, anda harus memenuhi syarat-syarat sebagai mufassir, maka sebutkan syarat-syarat tersebut agar kami tahu apakah Sukino memang benar-benar telah mampu menafsirkan al-Qur’an? Jika tidak mampu baiknya, kalian diam dan belajar kembali dihadapan para ulama yang shalih!

Soal 9
Jika kami katakan anda sebagai ahli bid’ah yang muncul baru-baru ini, maka apa jawaban anda? Jika tidak terima dengan tuduhan kami, apa sebabaiknya kita bertemu dalam meja dialog agar kami dapat bertabayun dan berdialog secara ilmiyyah dengan anda? Kami tunggu jawaban anda.

Soal 10
Setiap sesuatu yang tidak diajarkan Rasulallah adalah bid’ah, maka kami bertanya anda harus ngaji khusus dihari minggu dalilnya apa? Padahal anda sangat memusuhi warga NU yang membaca Yasin dihari Jum’at. Bukankah budaya anda yang hanya mau ngaji dihari minggu sama dengan orang kafir?



(Cuplikan diskusi debat bersama MTA diSragen Jawa Tengah)

Perhatian!
Mohon disebar luaskan ke teman dan saudara dengan memfoto copy risalah Debat NU-MTA ini sebagai perjuangan membela ahlussunnah wal jama’ah dari rongrongan ahli bid’ah, MTA.


[1] Al-Fath al-Mubin hlm. 263

[2] Al-Bid’ah fi al-‘Aqidah wa at-Tasawuf hlm. 18.

[3] Madza fi Sya‘ban hlm. 84.

[4] Dikutip Sayyid Muhammad Alawi dalam Manhaj as-Salaf hlm. 344.

[5] Ibid

[6] Tuhfah al-Ahwadzi juz 1 hlm. 245

[7] Manhaj Salaf fi Fahmi an-Nushush hlm. 315

[8] Hasyiyah al-Jamal juz 1 hlm. 309, I‘anah ath-Thalibin juz 1 hlm. 121.

[9] Mausu‘ah Yushufiyyah hlm. 626.

[10] An-Nafa’is al-‘Ulwiyyah soal nomer 71.

3 komentar:

  1. bagimu amalmu, bagiku amalku... gitu aja kok repot.. :)

    BalasHapus
  2. Ambil jalan tengah aja. sama2 benarnya

    BalasHapus