Kontributor : Suratman Muhadi, AMK., SKM
MUSLIMAT NAHDATUL ULAMA KOTA LUBUKLINGGAU
Kegiatan-kegiatan Pengajian atau Ta'lim
lalu yang kedua inilah adalah bagaimana jika kita memaafkan
orang? Mengapa ini juga sulit? Memaafkan orang lain atau pribadi lain,
hanya memerlukan sedikit tenaga dan usaha untuk mengatakan 2 huruf
yaitu "ok" karena terkadang jika seseorang meminta maaf pada kita, kita
tidak memaafkannya, padahal hanya dengan 2 huruf atau 3 huruf "ok"
atau "iya" tetapi manusia sangat sulit melakukannya, kalau
dipikir-pikir lagi lebih jauh, manusia itu konyol ya memiliki
kemampuan yang lebih, dan memiliki banyak keunikan, tapi berkata 2
huruf dan 3 huruf saja sulit sekali dan jarang sekali ada orang yang
memaafkan di jaman "individualis" ini.![]() Tapi penyebab utamanya bukan itu, penyebab utamanya adalah karena kita sebagai manusia memiliki kedudukan dan ego, kita sering kali sesuah mengangkat derajat orang lain yang ada dibawah kita, dan inilah yang menjadi penyebab utama dalam hal memaafkan. Kita sering berkata didalam otak "enak aja kamu omong "minta maaf" hei, aku susah-susah membantu kamu, kamu bersalah..aku tidak akan memaafkan mu begitu saja!!" dan itu karena manusia yang tidak sempurna ini tidak mau ada orang yang menyamainya dan selalu terus ingin menjadi yang teratas dan yang terbaik, dan ketika orang meminta maaf pada dirinya itulah kepuasan pribadi, karena dia merasa di atas dan merasa nikmat di posisi seperti itu. Itulah penyebab utama sulit berkata 2 atau 3 huruf tersebut. |
"Mereka yang memahami sifat-sifat Allah dalam makna indrawi ada beberapa golongan. Mereka berkata bahwa Allah bertempat di atas arsy dengan cara menyentuhnya, jika DIA turun (dari arsy) maka DIA pindah dan bergerak. Mereka menetapkan ukuran penghabisan (bentuk) bagi-NYA. Mereka mengharuskan bahwa Allah memiliki jarak dan ukuran. Mereka mengambil dalil bahwa Dzat Allah bertempat di atas arsy [--dengan pemahaman yang salah--] dari hadits nabi: "Yanzil Allah Ila Sama' ad Dunya", mereka berkata: "Pengertian turun (yanzil) itu adalah dari arah atas ke arah bawah".
Mereka memahami makna "nuzul" (dalam hadits tersebut) dalam pengertian indrawi yang padahal itu hanya khusus sebagai sifat-sifat benda. Mereka adalah kaum Musyabbihah yang memahami sifat-sifat Allah dalam makna indrawi (meterial). Dan Telah kami paparkan perkataan-perkataan mereka dalam kitab karya kami berjudul "Minhaj al Wushul Ila 'Ilm al Ushul".